Catatanku | Pondok Muslimah | Free Skin 




End oggix.com ShoutBox -->
Widget_logo



Kabarku dari Twitter



    Monday, August 15, 2005

    Kabut Asap di Medan

    Mulai kemarin, Kota Medan mulai berasap. Asapnya lumayan tebal dan berbau, membuat kerongkongan sakit, mata perih, dan sedikit sakit kepala.

    analisadaily.comKabut Asap Selimuti Medan
    Medan, WASPADA Online
    Asap menyelimuti hampir seluruh kawasan di Sumatera Utara Minggu (14/8). Di Medan, kabut asap menyebabkan jarak tembus pandang mencapai antara 100 hingga 200 meter pada sore hari. Dari Asahan dilaporkan, jarak pandang kurang dari 50 meter. Sebelumnya kabut asap sempat membuat negara jiran Malaysia menyatakan kondisi darurat di Port Klang dan Selangor yang sejak Sabtu (13/8) dicabut. Sementara dari pantauan Waspada di Riau, titik api (hot spot) turun drastis, tetapi kebakaran terus terjadi.

    Kabut asap tebal yang menyesakkan di kawasan Kota Medan, menyebabkan banyak masyarakat yang melakukan kegiatan di luar rumah merasa terganggu. Asap yang mengandung partikel abu membuat mata dan kerongkongan terasa perih, selain menurun tajamnya visibilitas.

    Pada pukul 16:00 jarak pandang di hampir seluruh pelosok kota hanya 100 sampai 200 meter dan akibat tebalnya asap. Angin membawa kabut asap dengan bau seperti kebakaran lahan pertanian yang berhembus dari arah utara membuat suasana relatif gelap, seperti menjelang magrib.

    Pada puncaknya, rendahnya visibilitas sangat signifikan di bandara Polonia. Pesawat-pesawat yang parkir di apron terlihat samar-samar dari terminal penumpang, sementara runway tidak kelihatan. Sejumlah warga terlihat mengenakan masker dengan tujuan agar tidak terhirup partikel asap, sementara banyak apotik kehabisan stok masker akibat permintaan yang melonjak..

    Sementara berdasarkan pemantauan Waspada, beberapa warga mengeluhkan tidak adanya informasi tentang kondisi udara di Medan. Seperti yang diungkapkan seorang pengendara sepeda motor yang ditemui Waspada di Jalan Pemuda, Simpang Palang Merah saat akan melihat Indeks Standart Pencemaran Udara (ISPU), dia melihat alat itu tidak berfungsi. Berdasarkan pantauan Waspada, alat ini, terdapat di tiga titik masing-masing, simpang Kapten Patimura dan Iskandar Muda, kemudian Bundaran Majestik Jalan Gatot Subroto dan di Jalan Pemuda, Simpang Palang Merah, satu pun tidak berfungsi.

    Kepala Balai Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pemberantasan Penyakit Menular (BTKL & PPM) Medan Otniel Ketaren, MSi yang dihubungi Waspada mengatakan, berdasarkan pengamatan yang dilakukan pihaknya diperoleh kesimpulan, kabut asap yang menyelimuti sebagian besar wilayah Sumatera Utara akibat terjadinya pergeseran angin menuju Sumatera Utara.

    Sebelumnya, kata Otniel, kabut asap itu menyelimuti negara tetangga Malaysia. Namun karena adanya pergeseran arah angin, maka kabut asap yang semula mengarah ke Malaysia , berpindah arah ke Sumatera Utara. Mega Sirait, staf BMG Wilayah I stasiun Bandara Polonia Medan ketika dikonfirmasi menyatakan, asap tebal yang melanda kawasan Medan berasal dari Riau dan Labuhan Batu akibat kebakaran hutan di sana.

    Asap dimaksud cepat sekali berubah. Misalnya, pada pukul 14:00 jarak pandang masih antara 4.000 hingga 5.000 meter, sementara menjelang pukul 17:00 bergerak menjadi 400 hingga 500 meter. "Begitupun, pihaknya sudah memberi aba-aba kepada jajaran penerbangan agar mereka lebih berhati-hati baik saat mendarat (landing) maupun terbang (take off)," ujar Mega.

    Menurut Mega, asap tebal dari Riau dan Labuhan Batu yang mengganggu jarak tembus pandang cepat sekali berhembus ke Medan karena pengaruh arah angin barat daya ke tenggara sehingga terbawa angin ke utara. Ditambahkan Otniel, petugas BTKL & PPM Medan yang berada di kawasan Asahan melaporkan dampak kabut asap di kabupaten itu menyebabkan jarak pandang kurang dari 50 meter pada Minggu (14/8) sekira pukul 17:00. Diperkirakan, daerah-daerah yang berbatasan langsung dengan daerah lokasi kebakaran hutan mengalami kondisi yang lebih parah lagi.

    Sebagaimana pantauan Waspada, kabut asap menyelimuti wilayah pesisir Kecamatan Tanjung Balai, Tanjung Tiram, Talawi, Limapuluh dan Medang Deras, sehingga banyak di antara nelayan yang membatalkan niatnya untuk melaut karena takut terjadi tubrukan sesama nelayan. Meskipun pihak Kesyahbandaran pelabuhan belum ada mengeluarkan bentuk imbauan terhadap nelayan. "Semua ini kami lakukan semata untuk menjaga keselamatan di laut," tukas Yusuf, seorang nelayan di Tanjung Tiram.

    Kabut tebal juga melanda perairan Belawan, mengakibatkan banyak nelayan tidak berani melaut karena pandangan tidak tembus sehingga dapat mengancam keselamatan saat berada di tengah laut. Beberapa nelayan di Belawan menyebutkan, jarak pandang sangat menentukan keselamatan di laut karena kalau jarak pandang terganggu dapat mengakibatkan tabrakan antara sesama kapal yang sedang berlayar, demikian juga ketika sedang menabur jaring, tabrakan juga dapat terjadi.

    Akibat kondisi kabut tebal ini akan mengancam perolehan ikan karena kegiatan melaut sebahagian besar nelayan kecil hingga besar tidak ada, jelas nelayan. Kabut tebal ini juga mengancam keluar masuk kapal di Pelabuhan Belawan.

    Demikian juga kondisi Jalan Lintas Sumatera khususnya di wilayah Asahan terlihat kabut asap yang tebal, sehingga para pengemudi terpaksa menghidupkan lampu untuk menghindari tubrukan. Walau diselimuti kabut asap, namun warga pengguna jalan tidak mengunakan masker, padahal kondisi tersebut sangat rawan terserang penyakit Inspeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Sebegitu jauh Pemkab Asahan belum memberikan aba-aba tentang dampak dari kabut itu.

    Membahayakan
    Kepala Balai Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pemberantasan Penyakit Menular (BTKL & PPM) Medan Otniel Ketaren, MSi juga menjelaskan, kabut asap yang menyelimuti Sumatera Utara khususnya Kota Medan ini mengandung partikel debu (PM10) sangat tebal. Di samping partikel debu, kabut asap juga mengandung Ozon (O3), Sulfur Oxida (SOx) dan Nitrogen Oxida (NOx) yang sangat membahayakan kesehatan.

    Karenanya, Otniel mengimbau warga mengurangi segala aktivitas di luar rumah selama asap tebal masih menyelimuti Sumatera Utara. "Bila kondisi ini tidak mengalami perubahan dalam waktu dua hari, maka masyarakat diwajibkan mengenakan masker untuk mencegah agar tidak terhirup asap yang lebih banyak," ujar Otniel.

    Di tempat terpisah, konsultan penyakit tropik dan infeksi FK-USU Dr. Umar Zein mengatakan, kabut asap yang menyelimuti Kota Medan dan sekitarnya dapat menyebabkan penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Atas (ISPA). Menurut Umar Zein, tidak semua orang yang rentan terhadap kabut asap kecuali orang-orang yang mempunyai faktor predisposisi alergi seperti penyakit asma dan alergi saluran pernafasan. "Namun bagi penderita TB Paru dan pneumonia, kabut asap dapat mengakibatkan dampak yang lebih parah lagi," ujar Umar Zein.

    Ikut membakar Lahan
    Dari Langkat, pihak perkebunan milik BUMN di Kebun Kwala Begumit, oleh sejumlah warga dituding ikut saham mencemarkan lingkungan, dengan membakar sisa-sisa tanaman tebu. Sisa-sisa pembakaran bekas daun tebu itu beterbangan sehingga membuat kotor di lingkungan dan masuk ke dalam rumah-rumah warga sekitarnya. Bahkan pencemaran dirasakan juga sejumlah penduduk dan kantor yang ada di Kecamatan Stabat.

    Pembakaran ladang tebu sangat parah dampaknya bagi masyarakat sekitarnya, terjadi sekira pukul 16:00 , Kamis ( 11/8) di areal Resbang DP 8 persis di belakang pemukiman warga Dusun 5 Sei Dendang, Desa Kwala Begumit, Kecamatan Stabat.

    H Sukhyar Mulianto mewakili masyarakat setempat sudah menyampaikan protes dan melayangkan surat meminta instansi terkait melakukan penindakan hukum atas pembakaran sampah perkebunan tebu di Kebun Kwala Begumit. "Surat ditujukan kepada Ka Bapedalda Pemrovsu di Medan dengan tembusan Gubsu, Bupati Langkat, Ketua DPRD Langkat, Kajari Stabat dan Kapolres Langkat di Stabat," ujar Mulianto, Minggu (14/8).

    Menurut Mulianto , pembakaran itu, merupakan hal yang disengaja pihak perkebunan dalam upaya memudahkan pembersihan lahan dan selanjutnya melakukan penanaman tebu kembali. Hal seperti itu kerap terjadi baik di Stabat dan sekitarnya maupun di lahan milik kebun itu di Kecamatan Secanggang. (m40/a06/m32/m35/a01)

    2 Komentar:

    Blogger Aditya Agustyana berkata...

    "gleks" sumatera, kalimantan, malaysia, brunei mah kayaknya tiap tahun selalu dapet kiriman asap, untung ajah di bandung gak ada hutan, jadi gak ada "banjir" asap :D

    15 August, 2005 15:15  
    Anonymous Anonymous berkata...

    Asik dapat kiriman terus.....

    15 August, 2005 16:44  

    Post a Comment


    Perilaku Seindah Az-Zahrah


    Free Islamic Blogger Skin



     

    Free Web Counter
    ^semua hak guna rini @ 2007^