Catatanku | Pondok Muslimah | Free Skin 




End oggix.com ShoutBox -->
Widget_logo



Kabarku dari Twitter



    Friday, August 04, 2006

    "Lelaki, Buaya Darat ..."

    Beberapa waktu lalu, aku berjalan melewati sebuah gang. Aku melihat seorang ibu muda sedang bermain dengan anaknya yang masih kecil. Anaknya itu, kira-kira 2 tahunan umurnya. Seneng melihat mereka bercanda. Dari kejauhan masih terdengar suara tawa mereka. Kemudian si ibu bernyanyi, "lelaki... buaya darat." Sebuah lagu yang sedang tenar saat ini. Selanjutnya tak kudengar suara mereka. Tiba-tiba, si ibu nyelutuk, "loh, mana busyetnya. Kok diem aja?"

    Kaget aku mendengarnya. Memang, kalimat lanjutan dari lagu itu adalah "busyet, aku tertipu lagi." Tapi, apa si ibu tidak sadar apa yang sedang diajarkannya pada anaknya secara tak langsung? Sebuah fenomena yang mengiris hati.

    Ibu, bunda, umi, mama, omak, emak, dll adalah sosok yang menjadi panutan bagi anaknya. Sejak anak dilahirkan, anak mengenal orang tua terutama ibu. Ia akan memperhatikan segala tindakan orang tua dan kemudian menirunya. Semua akan terekam dalam memorinya yang masih fresh.

    Jadi, bagaimana perkembangan jiwa si anak jika dari kecil si ibu tidak bisa mengajarkan pada anaknya apa yang patut diucapkan dan apa yang tak patut diucapkan. Si anak tidak akan tau kata-kata yang tak baik. Begitu ia memasuki dunia yang sebenarnya, bergabung dengan masyarakat dan berinteraksi di dalamnya. Si anak tak akan kuat menolak segala pengaruh negatif di dalam masyarakat. Bahkan, ada yang telah didik dengan baik oleh orang tua masih bisa terjerumus ke pergaulan tak baik. Lalu bagaimana yang tak dididik dengan baik di rumah?

    Kembali ke rumah sebagai madrasah utama bagi anak. Orang tua harus punya waktu yang cukup untuk menjadi guru, panutan bagi anak-anak. Tak bisa anak sekedar disekolahkan di sekolah mahal dan favorit serta memberinya les / kursus tambahan. Semua itu hanya mengajarkan pada anak tentang 'how to think' (berpikir secara teoritis) sedangkan 'how to be' (mempraktekkannya langsung) diajarkan di sekolah kehidupan, dimana orang tua, keluarga, dan lingkunganlah yang membentuknya.
    Belajar mengandung dua bagian pengertian, yaitu:

    1. Learning How to Think
    Ini merupakan jenis belajar yang dialami teman-teman di sekolah. Learning how to think berarti belajar berpikir secara teoritis. Misalnya, belajar shalat. Hal yang pertama dilakukan adalah belajar shalat secara teorits. Mempelajari hukumnya, gerakannya, bacaannya, dll.

    2. Learning How to Be
    Ini merupakan jenis belajar penerapannya, prakteknya di keseharian. Lanjutan dari contoh belajar shalat di atas. Setelah kita mempelajari shalat secara teoritis, tentu saja ilmu ini harus dipraktekkan. Sia-sia hanya mempelajarinya secara teoritis. Ilmu-ilmu tentang shalat yang baik harus dapat dipraktekkan langsung. Praktek langsung inilah, secara konstan dan berkesinambungan, merupakan learning how to be. Hasil akhirnya adalah, kita berhasil melaksanakan shalat yang benar dan khusuk.
    Memang, aku masih belum memasuki dunia ini tapi bolehlah aku belajar tentang ini semua. Semoga aku termasuk ibu yang tidak durhaka pada anak, nantinya. Amiin.

    6 Komentar:

    Anonymous maisara berkata...

    betul Kak, terus terang aku nggak suka lagu ini.Yang nyayi mau untungnya aja, tanpa peduli efek samping pada org yg denger.Apalagi seorang Ibu, yang.. kok ya suka dg lagu kayak gini, trus malah ngajarin anaknya. Jadi nanti anaknya diajar tuk berpikir bhw semua 'lelaki' buaya darat. padahal nggak begitu.

    04 August, 2006 13:21  
    Anonymous fitri berkata...

    mang iya sih rin.. pengaruh negatif dari dunia luar itu kuat banget, aku aja sering terkaget2 denger anakku nyanyiin lagu yg gak bener gitu, tapi sesudah ditegur akhirnya sekarang dia kalo mau nyanyi nanya dulu, ma.. lagu yang ini boleh gak untuk anak2..? duhh.. lutuna anakku :D

    04 August, 2006 13:37  
    Blogger pippip berkata...

    @maisara
    setuju
    gak semua laki2
    buaya darat... :D

    btw
    thanx infonya
    ttg learning how
    to thinx dan
    learning how to be

    04 August, 2006 14:11  
    Blogger Mama Zaza berkata...

    aduhh.... iya nih, lagu ini bikin rusak, termasuk si zaza, masih segede emprit aja udah bisa bilang "tet" aka busyet... huaaaaa.... inilah dilema ibu karir, hiks!

    04 August, 2006 16:01  
    Blogger rini as berkata...

    ada juga sebuah sekolah mengubah lirik beberapa lagu yang sedang trend menjadi lirik berbau Islam. Cara yang cukup bagus kan....

    @maisara. emang, lagu2 seperti itu yang menjual
    @fitri.. hmm, senengnya si Muthi pinter gitu ^_^
    @pippip, aku dah pernah loh bahas tentang belajar ini, dulu. Di sini nih http://riniaisyah.blogspot.com/2005/11/belajar-apa-hari-ini.html
    @mamanya zaza. iya nih mbak. mesti tambah kerja keras :(

    05 August, 2006 13:29  
    Anonymous maisara berkata...

    wah masak lagu 'bd' itu sekarang masuk malaysia...wuahh maluuu aku...

    06 August, 2006 14:03  

    Post a Comment


    Perilaku Seindah Az-Zahrah


    Free Islamic Blogger Skin



     

    Free Web Counter
    ^semua hak guna rini @ 2007^